Read more: http://pkt-studio.blogspot.com/2012/03/untuk-mencari-tutorial-cara-membuat.html#ixzz1yd6Hmdnt
Read more: http://pkt-studio.blogspot.com/2012/03/untuk-mencari-tutorial-cara-membuat.html#ixzz1yd6T3ElW

Rabu, 14 Januari 2015

perjalanan umroh 1 januari 2015

Bagi sebagian masyarakat tanah air, jangankan berpikir haji, umroh pun terasa tak terjangkau.
Perjalanan  ruhiyah ini kadang masih terasa mahal, meski Allah menjanjikan mengganti setiap sen-nya.
Beberapa catatan perjalanan,   sedikit rekaman perjalanan umroh bareng Meri yang diselenggarakan Baitussalam Tour 1Januari 2015 lalu, umroh sekaligus belajar mengabadikan perjalanan iman ini semoga bermanfaat membantu teman-teman yang hatinya telah rindu untuk menata langkah, mempersiapkan diri dan memilih biro perjalanan umroh yang lebih baik, agar perjalanan khusyu dan lebih memberi jejak pada hati. Semoga dimudahkan menuju rumahNya. 

*****
 Pada tgl 1 Jan 2015.kami berangkat dari Jakarta menuju Jeddah.selanjutnya menuju Mekkah almukarromah.Perjalanan kami tempuh selama lebih kurang 11.5 Jam.menggunakan Pesawat Yamenia Air dengan rute Jakarta-Dubai-Yaman-Jeddah.perjalanan kami seharusnya dimulai dari Madinah baru ke Mekkah.akan t
etapi berubah Mekkah baru ke Madinah.

*****
Kami bersyukur karena ternyata di Mekkah lebih lama dan lebih banyak untuk ibadahnya.kami disana 6 hari.dan Alhamdullilah kami sudah melaksanakan Umroh sebanyak 3 kali.yang mana biasanya para Jemaah hanya bisa melaksakan satu sampai dua kali Umroh.

*****
Selama di Mekkah,selain memperbanyak ibadah di Masjidil Haram kami juga mengunjungi tempat-tempat seperti Jabal Tsur,Jabal Rahmah dan Jabal Nur.selain itu kami juga dapat beribadah di Ja'ronah,Tan'im.

*****
Setelah 6 hari di Mekkah dan melaksanakan Thawaf Wada kami melanjutkan perjalanan menuju Madinah,yang kami tempuh lebih kurang 6 jam menggunakan Bus.kami tiba di Madinah sekitar pukul 21:00 waktu Madinah atau 04:00 pagi Wib dengan suhu berkisar 9'C.

*****
Di Madinah kami menghabiskan waktu selama 3 hari.dan kami lebih banyak menghabiskan waktu di Masjid Nabawi (Masjid yang didirikan oleh Rasulullah).disana kami berkesempatan mengunjungi Raudhah.


















Rabu, 13 Maret 2013

hakim di kota syibam hadramaut

Dahulu ada seseorang memegang jabatan qodhi (hakim) di Syibam. Selama puluhan tahun tak ada seorang pun yang datang mengadu kepadanya. “Mengapa di antara kalian tak ada yang berkelahi, tak ada yang bersengketa,” keluhnya suatu hari kepada penduduk kota.
“Penghuni kota ini satu dengan lainnya telah didamaikan Quran,” jawab mereka,
Barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. (QS Asy-Syuraa, 42:40)
“Mereka tidak butuh kamu. Apa yang hendak kau hakimi jika mereka telah bersatu.”

Ia hanya duduk bengong setiap hari. Penampilannya seorang hakim, namun perbuatannya seperti penganggur. Setiap hari ia masuk kantor, meski tak ada seorang pun mengunjunginya.
Setelah 14 tahun, datang dua orang menemuinya.
“Ada apa?” tanya pak hakim.
“Kami ada masalah,” jawab salah seorang tamunya.
“Alhamdulillah, selamat datang, selamat datang, selama bertahun-tahun aku merindukan kejadian ini. Kemarilah, duduklah, aku akan bertindak adil kepada kalian.”
Sang hakim bersiap-siap hendak memamerkan semua ilmunya, karena ini adalah kasus pertama yang akan ia adili selama 14 tahun masa bakti.
“Nah, ceritakanlah persoalanmu!”
“Aku membeli sebidang tanah dari orang ini. Dalam tanah itu ternyata ada harta karun emas. Pada harta itu terdapat tanda-tanda bahwa harta itu dari masa sebelum Islam yang berarti bahwa harta itu adalah rikaz.”
“Benar,” kata pak hakim.
“Kalau itu harta rikaz, maka sudah seharusnya menjadi milik pemilik tanah pertama. Aku lalu mendatanginya dengan membawa harta itu. Kukatakan kepadanya bahwa semua emas itu adalah miliknya. Namun, ia tidak mau menerima. Katanya ia telah menjual tanah itu kepadaku.”
“Aneh…, inikah pengaduanmu? Sekarang jawablah!” perintah pak hakim kepada tamunya yang lain.
“Pak Hakim yang mulia, tanah itu berikut isinya telah kujual, jadi aku tidak berhak lagi atas harta itu. Sewaktu menjual aku tidak berkata, ‘Kujual tanah ini tidak termasuk harta karunnya.’ Harta itu tersimpan dalam tanah yang telah kujual, maka sudah selayaknya harta itu menjadi milik si pembeli tanah.” “Sungguh aneh…, inikah jawabmu?”
“Ya.”
“Bagaimana pendapat kalian sekarang?”
“Pak Hakim yang mulia, Engkau mengetahui syariat-syariat Allah. Ambillah harta ini dan gunakanlah,” kata mereka berdua.
“Kalian hendak menyelamatkan diri dan membinasakan Pak Hakimmu, ya?! Tidak bisa begitu!” “Kalau begitu adililah kami.”
“Sabaaar…, bersabarlah…, kamu punya anak?”
“Ya, aku punya seorang puteri.”
“Kamu?”
“Aku punya seorang putera.”
“Baiklah, keluarkanlah 1/5 harta tersebut sebagai zakat karena itu adalah harta rikaz. Kemudian gunakanlah 4/5 sisanya untuk pernikahan putra-putri kalian. Sekarang pergilah kalian dari tempatku ini.”

Menakjubkan! Perhatikanlah pengaduan, pembelaan dan keputusan pak hakim. Subhanallah, Nabi SAW pernah menceritakan kejadian serupa yang dialami Bani Israil. Namun pada umat Muhammad SAW kejadiannya lebih menakjubkan lagi. Tiada keutamaan yang dialami umat terdahulu, kecuali dialami pula oleh umat ini, bahkan lebih menakjubkan lagi.

Kamis, 21 Februari 2013

Subhanallah, Seorang Bayi di Nigeria Terlahir Membawa Al-Quran dari Rahim Ibunya

Ulama terkenal dari Nigeria pada Senin (14/5/2012) berkumpul di Mushin, Provinsi Lagos, barat daya Nigeria, untuk menyaksikan upacara penamaan seorang bayi. Bayi tersebut bukan bayi biasanya sehingga harus masuk pemberitaan di media, namun bayi yang terlahir pada 7 Mei 2012 tersebut terlahir dengan membawa sebuah Al-Quran kecil di tangannya dari rahim ibunya. Allahu akbar!
Setelah menyampaikan sebuah kultum, seorang ulama Nigeria, Ustadz Abdul Rahman Olanrewaju Ahmed, memberikan nama kepada bayi tersebut dengan nama Abdul Wahab Iyanda Aderemi Irawo. Dalam pemberian nama tersebut, Ustadz Abdul Rahman juga menasihati sang ibu dari jabang bayi tersebut bahwa bayinya bukanlah seorang nabi meskipun ia terlahir dari rahimnya sambil memegang Quran.
 
Beliau juga menambahkan bahwa hal tersebut merupakan kehendak Allah, untuk mengirim bayi tersebut ke dunia dengan cara yang menakjubkan, yakni terlahir dengan membawa Quran dari rahimnya. Subhanallah!
 
Ulama lain yang ikut dalam acara tersebut antara lain Syaikh Abdulraman Sulaiman Adangba, Ketua dari Komunitas Nasrulifathi Ustadz Alhaji Abdullahi Akinbode, dan Dr Ramoni Tijani dari Komunitas Islam Alifathiquareeb.
 
Sebelumnya pada Ahad (13/5), ibu dari sang jabang bayi ini menyatakan diri memeluk Islam setelah melihat bayinya terlahir dengan membawa Quran dari rahimnya. Kini, sang ibu 32 tahun yang dulu bernama Kikelomo Ilori ini kemudian berganti menjadi Sharifat. Hal serupa juga dilakukan oleh nenek sang jabang bayi yang dulu memeluk agama Kristen sekarang menjadi seorang Muslim dan mengganti namanya dengan nama Islami.
 
Di luar rumah sang jabang bayi, banyak pedangang tumpah ruah menjual berbagai suvenir tentang bayi tersebut, mulai dari kaos, tasbih, dan foto-foto sang jabang bayi yang terlahir membawa Quran tersebut.
 
Kelahiran sang jabang bayi tersebut hingga saat ini masih mengundang kontroversi, dimana para sekularis menganggap sesuatu yang mustahil bagi seorang bayi terlahir dengan memegang (membawa) Quran dari rahim sang ibu. Namun di lain pihak, banyak yang berpendapat bahwa apa pun bisa terjadi jika Allah berkehendak. Wallahu a’lam bish shawwab.

Ingin Punya Anak, Tahanan Palestina Selundupkan Sperma

Ada sekitar 4500 warga Palestina berada di penjara-penjara Zionis Israel, menjalani hukuman untuk perjuangannya, di antaranya melakukan pelemparan batu terhadap tentara penjajah Israel.
Diantara mereka juga ada sejumlah istri berkeinginan untuk hamil dan memiliki anak. Meskipun suami dalam kondisi ditahan, bahkan dalam jangka waktu lama. Meskipun para tahanan  dilarang dikunjungi istri atau suaminya. Tapi selalu ada jalan untuk memperjuangkan kebaikan.
“Kami para istri akan merangkak menjadi tua, dan kemungkinan memiliki bayi di masa mendatang berkurang,” kata Rimah Silawi, 38 tahun, dalam pemberitaan laman The Australian, Kamis (7/2/2013). Ia telah hamil satu bulan setelah menjalani perawatan IVF yang menggunakan sperma suaminya di penjara itu.
Suaminya, Usamah, sedang menjalani hukuman seumur hidup karena membunuh seorang Israel dan tiga orang Palestina yang berkolaborator dengan militer Israel di kota Tepi Barat, Jenin, 22 tahun yang lalu.
Sukses ‘Menghamili’ Istri
Seorang dokter ahli kesuburan Palestina mengklaim telah menggunakan sperma beberapa tahanan Palestina di  penjara-penjara Zionis Israel untuk membantu istri mereka memiliki bayi. Sperma para tahanan itu berhasil keluar dengan cara diselundupkan, dan sejauh ini lima wanita telah hamil.
Dokter tersebut menyatakan, meskipun tampaknya peluang dan kondisi para tahanan sulit, tetapi upaya ini masuk akal.
Dr Salim Abu Khaizaran dari Pusat Razan untuk IVF di kota Tepi Barat, Nablus, mengatakan, ia telah mengumpulkan 40 sampel, dan istri 22 tahanan telah menjalani perawatan IVF. Lima telah sukses, termasuk seorang wanita yang melahirkan bayinya awal tahun ini.
Dia mengatakan, tingkat keberhasilan rendah karena kesulitan dalam mengangkut sampel. Di negara-negara Barat tingkat keberhasilan IVF sekitar 25 persen dalam kondisi rumah sakit dan pelayanan yang ideal.
Abu Khaizaran mengatakan, ia memberikan layanan gratis demi solidaritas dengan para tahanan. “Para istri tahanan menderita Mereka merasa kesepian karena suami mereka berada di belakang terali besi, beberapa tahanan bahkan menghabiskan seluruh hidup mereka di situ. Mereka sangat ingin memiliki bayi yang dapat membuat kehidupan mereka berbeda,” kata Abu Khaizaran.
Menjaga Nasab
Kerabat para tahanan menolak mengatakan bagaimana sperma dapat diselundupkan keluar, karena takut informasi tersebut akan membuat pemerintah Zionis Israel mencegah upaya lebih lanjut. Mereka mengatakan sampel biasanya dibawa keluar dalam tabung tetes mata.
Istri seorang tahanan mengatakan, suaminya menyembunyikan sampel dalam pakaian yang diizinkan untuk diberikan kepada pengunjung. Sampel itu kemudian segera dibawa ke klinik untuk dibekukan. Tenggang waktu sekitar 4 jam.
Dia tidak ingin identitas dirinya disebutkan karena takut suaminya akan dihukum.
Sungguh mulia usaha mereka untuk menjaga nasab. Mereka tetap berupaya menjaga kesucian, kehormatan dan melangsungkan silsilah keluarga. Terali besi dan kejahatan kaum Zionis tidak membuat generasi Palestina habis.

Rabu, 30 Januari 2013

Kisah seorang Yahudi yang mengislamkan jutaan orang

Di suatu tempat di Perancis sekitar lima puluh tahun yang lalu, ada seorang berkebangsaan Turki berumur 50 tahun bernama Ibrahim, ia adalah orang tua yang menjual makanan di sebuah toko makanan. Toko tersebut terletak di sebuah apartemen dimana salah satu penghuninya adalah keluarga Yahudi yang memiliki seorang anak bernama "Jad" berumur 7 tahun.
Jad si anak Yahudi Hampir setiap hari mendatangi toko tempat dimana Ibrahim bekerja untuk membeli kebutuhan rumah, setiap kali hendak keluar dari toko –dan Ibrahim dianggapnya lengah– Jad selalu mengambil sepotong cokelat milik Ibrahim tanpa seizinnya.
Pada suatu hari usai belanja, Jad lupa tidak mengambil cokelat ketika mau keluar, kemudian tiba-tiba Ibrahim memanggilnya dan memberitahu kalau ia lupa mengambil sepotong cokelat sebagaimana kebiasaannya. Jad kaget, karena ia mengira bahwa Ibrahim tidak mengetahui apa yang ia lakukan selama ini. Ia pun segera meminta maaf dan takut jika saja Ibrahim melaporkan perbuatannya tersebut kepada orangtuanya.
Ibrahim pun menjawab: "Tidak apa, yang penting kamu berjanji untuk tidak mengambil sesuatu tanpa izin, dan setiap saat kamu mau keluar dari sini, ambillah sepotong cokelat, itu adalah milikmu!" Jad pun menyetujuinya dengan penuh kegirangan.
Waktu berlalu, tahun pun berganti dan Ibrahim yang muslim kini menjadi layaknya seorang ayah dan teman akrab bagi Jad si anak Yahudi.
Sudah menjadi kebiasaan Jad saat menghadapi masalah, ia selalu datang dan berkonsultasi kepada Ibrahim. Dan setiap kali Jad selesai bercerita, Ibrahim selalu mengambil sebuah buku dari laci, memberikannya kepada Jad dan kemudian menyuruhnya untuk membukanya secara acak. Setelah Jad membukanya, kemudian Ibrahim membaca dua lembar darinya, menutupnya dan mulai memberikan nasehat dan solusi dari permasalahan Jad.
Beberapa tahun pun berlalu dan begitulah hari-hari yang dilalui Jad bersama Ibrahim, seorang Muslim Turki yang tua dan tidak berpendidikan tinggi.
14 tahun berlalu, kini Jad telah menjadi seorang pemuda gagah dan berumur 24 tahun, sedangkan Ibrahim saat itu berumur 67 tahun.
Ibrahim pun akhirnya meninggal, namun sebelum wafat ia telah menyimpan sebuah kotak yang dititipkan kepada anak-anaknya dimana di dalam kotak tersebut ia letakkan sebuah buku yang selalu ia baca setiap kali Jad berkonsultasi kepadanya. Ibrahim berwasiat agar anak-anaknya nanti memberikan buku tersebut sebagai hadiah untuk Jad, seorang pemuda Yahudi.
Jad baru mengetahui wafatnya Ibrahim ketika putranya menyampaikan wasiat untuk memberikan sebuah kotak, Jad pun merasa tergoncang dan sangat bersedih dengan berita tersebut, karena Ibrahim lah yang selama ini memberikan solusi dari semua permasalahannya,  dan Ibrahim lah satu-satunya teman sejati baginya.
Hari-haripun berlalu, Setiap kali dirundung masalah, Jad selalu teringat Ibrahim. Kini ia hanya meninggalkan sebuah kotak. Kotak yang selalu ia buka, di dalamnya tersimpan sebuah buku yang dulu selalu dibaca Ibrahim setiap kali ia mendatanginya.
Jad lalu mencoba membuka lembaran-lembaran buku itu, akan tetapi kitab itu berisikan tulisan berbahasa Arab sedangkan ia tidak bisa membacanya. Kemudian ia pergi ke salah seorang temannya yang berkebangsaan Tunisia dan memintanya untuk membacakan dua lembar dari kitab tersebut. Persis sebagaimana kebiasaan Ibrahim dahulu yang selalu memintanya membuka lembaran kitab itu dengan acak saat ia datang berkonsultasi.
Teman Tunisia tersebut kemudian membacakan dan menerangkan makna dari dua lembar yang telah ia tunjukkan. Dan ternyata, apa yang dibaca oleh temannya itu, mengena persis ke dalam permasalahan yang dialami Jad kala itu. Lalu Jad bercerita mengenai permasalahan yang tengah menimpanya, Kemudian teman Tunisianya itu memberikan solusi kepadanya sesuai apa yang ia baca dari kitab tersebut.
Jad pun terhenyak kaget, kemudian dengan penuh rasa penasaran ini bertanya, "Buku apa ini !?"
Ia menjawab : "Ini adalah Al-Qur'an, kitab sucinya orang Islam!"
Jad sedikit tak percaya, sekaligus merasa takjub,
Jad lalu kembali bertanya: "Bagaimana caranya menjadi seorang muslim?"
Temannya menjawab : "Mengucapkan syahadat dan mengikuti syariat!"
Setelah itu, dan tanpa ada rasa ragu, Jad lalu mengucapkan Syahadat, ia pun kini memeluk agama Islam!
Jadullah seorang Muslim.
Kini Jad sudah menjadi seorang muslim, kemudian ia mengganti namanya menjadi Jadullah Al-Qur'ani sebagai rasa takdzim atas kitab Al-Qur'an yang begitu istimewa dan mampu menjawab seluruh problema hidupnya selama ini. Dan sejak saat itulah ia memutuskan akan menghabiskan sisa hidupnya untuk mengabdi menyebarkan ajaran Al-Qur'an.
Mulailah Jadullah mempelajari Al-Qur'an serta memahami isinya, dilanjutkan dengan berdakwah di Eropa hingga berhasil mengislamkan enam ribu Yahudi dan Nasrani.
Suatu hari, Jadullah membuka lembaran-lembaran Al-Qur'an hadiah dari Ibrahim itu. Tiba-tiba ia mendapati sebuah lembaran bergambarkan peta dunia. Pada saat matanya tertuju pada gambar benua afrika, nampak di atasnya tertera tanda tangan Ibrahim dan dibawah tanda tangan itu tertuliskan ayat :
((اُدْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ...!!))
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik!!..." (QS. An-Nahl; 125)
Iapun yakin bahwa ini adalah wasiat dari Ibrahim dan ia memutuskan untuk melaksanakannya.
Beberapa waktu kemudian Jadullah meninggalkan Eropa dan pergi berdakwah ke negara-negara Afrika yang diantaranya adalah Kenya, Sudan bagian selatan (yang mayoritas penduduknya adalah Nasrani), Uganda serta negara-negara sekitarnya. Jadullah berhasil mengislamkan lebih dari 6.000.000 (enam juta) orang dari suku Zolo, ini baru satu suku, belum dengan suku-suku lainnya.
Akhir Hayat Jadullah
Jadullah Al-Qur'ani, seorang muslim sejati, da'i hakiki, menghabiskan umur 30 tahun sejak keislamannya untuk berdakwah di negara-negara Afrika yang gersang dan berhasil mengislamkan jutaan orang.
Jadullah wafat pada tahun 2003 yang sebelumnya sempat sakit. Kala itu beliau berumur 45 tahun, beliau wafat dalam masa-masa berdakwah.
Kisah pun belum selesai
Ibu Jadullah Al-Qur'ani adalah seorang wanita Yahudi yang fanatik, ia adalah wanita berpendidikan dan dosen di salah satu perguruan tinggi. Ibunya baru memeluk Islam pada tahun 2005, dua tahun sepeninggal Jadullah yaitu saat berumur 70 tahun.
Sang ibu bercerita bahwa –saat putranya masih hidup– ia menghabiskan waktu selama 30 tahun berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan putranya agar kembali menjadi Yahudi dengan berbagai macam cara, dengan segenap pengalaman, kemapanan ilmu dan kemampuannya, akan tetapi ia tidak dapat mempengaruhi putranya untuk kembali menjadi Yahudi. Sedangkan Ibrahim, seorang Muslim tua yang tidak berpendidikan tinggi, mampu melunakkan hatinya untuk memeluk Islam, hal ini tidak lain karena Islamlah satu-satunya agama yang benar.
Kemudian yang menjadi pertanyaan: "Mengapa Jad si anak Yahudi memeluk Islam?"
Jadullah Al-Qur'ani bercerita bahwa Ibrahim yang ia kenal selama 17 tahun tidak pernah memanggilnya dengan kata-kata: "Hai orang kafir!" atau "Hai Yahudi!" bahkan Ibrahim tidak pernah untuk sekedar berucap: "Masuklah agama islam!"
Bayangkan, selama 17 tahun Ibrahim tidak pernah sekalipun mengajarinya tentang agama, tentang Islam ataupun tentang Yahudi. Seorang tua muslim sederhana itu tak pernah mengajaknya diskusi masalah agama. Akan tetapi ia tahu bagaimana menuntun hati seorang anak kecil agar terikat dengan akhlak Al-Qur'an.
Kemudian dari kesaksian DR. Shafwat Hijazi (salah seorang dai kondang Mesir) yang suatu saat pernah mengikuti sebuah seminar di London dalam membahas problematika Darfur serta solusi penanganan dari kristenisasi, beliau berjumpa dengan salah satu pimpinan suku Zolo. Saat ditanya apakah ia memeluk Islam melalui Jadullah Al-Qur'ani?, ia menjawab; tidak! namun ia memeluk Islam melalui orang yang diislamkan oleh Jadullah Al-Qur'ani.
Subhanallah, akan ada berapa banyak lagi orang yang akan masuk Islam melalui orang-orang yang diislamkan oleh Jadullah Al-Qur'ani. Dan Jadullah Al-Qur'ani sendiri memeluk Islam melalui tangan seorang muslim tua berkebangsaan Turki yang tidak berpendidikan tinggi, namun memiliki akhlak yang jauh dan jauh lebih luhur dan suci.
Begitulah hikayat tentang Jadullah Al-Qur'ani, kisah ini merupakan kisah nyata yang penulis dapatkan kemudian penulis terjemahkan dari catatan Almarhum Syeikh Imad Iffat yang dijuluki sebagai "Syaikh Kaum Revolusioner Mesir". Beliau adalah seorang ulama Al-Azhar dan anggota Lembaga Fatwa Mesir yang ditembak syahid dalam sebuah insiden di Kairo pada hari Jumat, 16 Desember 2011 silam.
Kisah nyata ini layak untuk kita renungi bersama di masa-masa penuh fitnah seperti ini. Di saat banyak orang yang sudah tidak mengindahkan lagi cara dakwah Qur'ani. Mudah mengkafirkan, fasih mencaci, mengklaim sesat, menyatakan bid'ah, melaknat, memfitnah, padahal mereka adalah sesama muslim.
Dulu da'i-da'i kita telah berjuang mati-matian menyebarkan Tauhid dan mengislamkan orang-orang kafir, namun kenapa sekarang orang yang sudah Islam malah justru dikafir-kafirkan dan dituduh syirik? Bukankah kita hanya diwajibkan menghukumi sesuatu dari yang tampak saja? Sedangkan masalah batin biarkan Allah yang menghukumi nanti. Kita sama sekali tidak diperintahkan untuk membelah dada setiap manusia agar mengetahui kadar iman yang dimiliki setiap orang.
Mari kita renungi kembali surat Thaha ayat 44 yaitu Perintah Allah swt. kepada Nabi Musa dan Harun –'alaihimassalam– saat mereka akan pergi mendakwahi fir'aun. Allah berfirman,
((فَقُولاَ لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى))
"Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut."
Bayangkan, fir'aun yang jelas-jelas kafir laknatullah, namun saat dakwah dengan orang seperti ia pun harus tetap dengan kata-kata yang lemah lembut. Lalu apakah kita yang hidup di dunia sekarang ini ada yang lebih Islam dari Nabi Musa dan Nabi Harun? Atau adakah orang yang saat ini lebih kafir dari fir'aun sehingga Al-Qur'an pun merekam kekafirannya hingga kini? Lantas alasan apa bagi kita untuk tidak menggunakan dahwah dengan metode Al-Qur'an? Yaitu dengan Hikmah, Nasehat yang baik, dan Diskusi menggunakan argumen yang kuat namun tetap sopan dan santun?
Maka dalam dakwah yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana cara kita agar mudah menyampaikan kebenaran Islam ini. Oleh karenanya, jika sekarang kita dapati ada orang yang kafir, bisa jadi di akhir hayatnya Allah akan memberi hidayah kepadanya sehingga ia masuk Islam. Bukankah Umar bin Khattab dulu juga pernah memusuhi Rasulullah? Namun Allah berkehendak lain, sehingga Umar pun mendapat hidayah dan akhirnya memeluk Islam. Lalu jika sekarang ada orang muslim, bisa jadi di akhir hayatnya Allah mencabut hidayah darinya sehingga ia mati dalam keadaan kafir. Na'udzubillah tsumma Na'udzubillahi min Dzalik.
Karena sesungguhnya dosa pertama yang dilakukan iblis adalah sombong dan angkuh serta merasa diri sendiri paling suci sehingga tak mau menerima kebenaran Allah dengan sujud hormat kepada nabi Adam –'alaihissalam–. Oleh karena itu, bisa jadi Allah mencabut hidayah dari seorang muslim yang tinggi hati lalu memberikannya kepada seorang kafir yang rendah hati. Segalanya tiada yang mustahil bagi Allah!
Marilah kita pertahankan akidah Islam yang telah kita peluk ini, dan jangan pernah mencibir ataupun "menggerogoti" akidah orang lain yang juga telah memeluk Islam serta bertauhid. Kita adalah saudara seislam seagama. Saling mengingatkan adalah baik, saling melindungi akidah sesama muslim adalah baik. Marilah kita senantiasa berjuang bahu-membahu demi perkara yang baik-baik saja.
Wallahu Ta'ala A'la Wa A'lam Bis-Shawab.

Sabtu, 19 Januari 2013

Duta Besar AS bertemu Pemimpin Spiritual Habib Munzir bin Fuad al-Musawa untuk Berdiskusi mengenai Toleransi Beragama dan Dialog Lintas Agama Duta Besar Amerika Serikat

Duta Besar AS bertemu Pemimpin Spiritual Habib Munzir bin Fuad al-Musawa untuk Berdiskusi mengenai Toleransi Beragama dan Dialog Lintas Agama Duta Besar Amerika Serikat, Scot Marciel bertemu dengan pemimpin keagamaan yang sangat terkenal, Habib Munzir bin Fuad al-Musawa di kediaman beliau pada tanggal 9 Januari lalu. Duta Besar dan Habib Munzir, pemimpin organisasi keagamaan Majelis Rusulullah SAW, berdiskusi tentang pentingnya toleransi beragama, kerohanian, pemahaman/pengertian bersama dan dialog lintas agama di kedua negara.
Habib Munzir, yang belajar Islam di Yaman, menjelaskan kepada Duta Besar bahwa misinya adalah untuk mengajak dan mengajarkan pada seluruh umat bahwa Islam adalah agama yang damai dan penuh cinta kasih. Ia mengatakan bahwa organisasinya adalah bagi semua orang, terutama bagi para pemuda, dari kota-kota besar yang penuh sesak dan mengakibatkan stress seperti Jakarta, mereka yang ingin menemukan kedamaian bathin dan meninggalkan kekerasan, anarki dan obat-obatan terlarang/narkoba.
Duta Besar mengatakan kepada Habib Munzir bahwa melibatkan para pemuda juga merupakan prioritas dari Kedutaan (AS) dan ia menceritakan beberapa dari berbagai kesempatan pertukaran pelajar di Amerika Serikat untuk para pemuda Indonesia.

Tambahan dari habibana Munzir,
toleransi dengan ummat beragama sangat baik, belum pernah ada Duta Besar negeri manapun mau datang kerumah saya, ia tidak mau mengundang saya ke kedutaan, ia tidak mau mengundang saya kerumah dinasnya, tapi ia datang langsung kerumah saya.
Hancur hati ini dengan melihat akhlak yg sedemikian mulia dan luhur, padahal berbeda agama. konon amerika negara terjahat, namun disana jutaan muslimin muslimat, dan Duta Besarnya dg ringan kaki datang kerumah saya, padahal rencana kedatangan beliau sudah dua bulan yg lalu, namun saya terus menunda karena sakit dan lainnya, beliau tetap menunggu waktu, terserah saya,hari apa, jam berapa, maka saya sarankan hari rabu jam 16,00wib maka beliau datang tepat waktu.. subhanallah....
saudara dan saudariku, buka hatimu lebih luas kepada yg seagama dan tidak seagama, itulah Pribadi Sayyidina Muhammad saw. Semoga Allah melimpahkan hidayah dan kesucian pada beliau dan seluruh pendudu amerika serikat da seluruh dunia, amiin.Sumber majelisrasulullah.org/us embassy